Memaknai Kembali Sumpah Pemuda: Indonesia Seperti Apa yang Ingin Kita Cintai?
- Dhimas Satria
- 28 Oktober 2026
Hampir satu abad setelah Sumpah Pemuda diikrarkan, cara generasi muda memaknai Indonesia mungkin telah berubah. Di tengah linimasa yang dipenuhi perayaan kebangsaan, muncul pula berbagai keresahan tentang mahalnya biaya hidup, sulitnya memperoleh pekerjaan, hingga masa depan yang terasa semakin tidak pasti. Di saat yang sama, media sosial membuat kehidupan di negara lain semakin dekat untuk dilihat dan dibandingkan. Lantas, ketika pemuda Indonesia mulai mempertanyakan mengapa negaranya belum bisa memberikan kehidupan seperti yang mereka lihat di tempat lain, apakah itu berarti mereka mulai kehilangan rasa nasionalismenya?
Keresahan tersebut bukan tanpa konteks. Dalam survei Litbang Kompas pada September 2025, sebanyak 59,4% responden menilai kurangnya lapangan kerja sebagai tantangan utama yang dihadapi pemuda Indonesia. Namun, di tengah berbagai tantangan tersebut, 73,1% responden juga yakin bahwa generasi muda mampu membawa Indonesia menjadi negara maju (Muhamad, 2025). Dua temuan ini memperlihatkan bahwa kekhawatiran terhadap masa depan dan keyakinan terhadap masa depan Indonesia dapat hadir secara bersamaan.
Ketika Nasionalisme Dipertanyakan di Media Sosial
Perjuangan pemuda dapat kita tarik kembali ke munculnya Sumpah Pemuda. Sudah hampir 100 tahun isinya menggema di seluruh negeri, dipelajari di sekolah-sekolah, dan diperingati setiap 28 Oktober. Bahkan, dengan adanya globalisasi dan media sosial, Sumpah Pemuda menjadi semakin dirayakan dengan twibbon dan caption yang kreatif. Namun, seiring berjalannya waktu, para pemuda di Indonesia mulai mengeluhkan beberapa hal di media sosial. Harga kebutuhan pokok naik, perumahan semakin tidak terjangkau, PHK menjamur, dan lain-lain. Keresahan ekonomi tersebut juga tercermin dalam survei nasional PP17 pada Juli 2025 terhadap 1.303 responden berusia 17–35 tahun. Harga bahan pokok yang mahal disebut sebagai tantangan ekonomi oleh 31% responden, sementara kenaikan biaya hidup dan tingginya pengangguran masing-masing disebut oleh 26% responden (Ridwan, 2025).
Tidak hanya itu, para pemuda bahkan mulai menyuarakan peribahasa “rumput tetangga selalu lebih hijau” dengan membandingkan kehidupan di Indonesia dengan negara-negara maju di Eropa hingga Asia. Unggahan semacam ini tidak hanya muncul sekali atau dua kali, tetapi berulang kali dibagikan oleh banyak orang dengan jumlah likes dan komentar yang tidak sedikit. Komentar atas unggahan tersebut pun tak jarang memvalidasi keresahan yang disampaikan. Dengan dominannya anak muda di media sosial, apakah ini tanda-tanda pemuda Indonesia mulai tidak nasionalis?
Sebenarnya, bukan. Pemuda Indonesia tetap sayang pada negerinya. Ini bukan semata-mata soal orang Indonesia yang hendak kabur, seperti yang tergambar dalam fenomena #KaburAjaDulu. Ada sesuatu yang berbeda: para pemuda ingin sekali Indonesia punya standar yang sama seperti negara-negara maju. Tantangan yang dihadapi para pemuda masa sekarang sebenarnya memiliki kemiripan dengan keresahan pemuda pada era pergerakan nasional. Seperti apa Indonesia yang kita inginkan? Meskipun kondisinya berbeda, dahulu para pemuda berjuang di bawah kolonialisme, sedangkan pada masa globalisasi saat ini, keterbukaan informasi semakin memperluas cakrawala pemuda terhadap apa yang terjadi di dunia.
Membandingkan Indonesia, Membayangkan Kehidupan yang Lebih Baik
Membandingkan Indonesia dengan negara luar bukan berarti anti-Indonesia. Jika para pemuda benar-benar anti-Indonesia, mungkin mereka tidak akan terlalu peduli dengan apa yang terjadi di negaranya. Padahal, banyak dari mereka justru ingin Indonesia bisa sebaik negara lain. Mudahnya menggunakan transportasi publik di Jepang, nyamannya berjalan kaki sebagai pejalan kaki di sejumlah kota Eropa, atau mudahnya mengurus birokrasi di Singapura tidak serta-merta dapat diartikan bahwa para pemuda sedang menghina negaranya. Justru, perbandingan tersebut dapat menjadi bentuk aspirasi yang muncul dari keterbukaan global (globalized aspiration).
Pemuda pada era pergerakan nasional memiliki akses yang jauh lebih terbatas terhadap informasi mengenai kehidupan di luar negeri. Sementara itu, pada era sekarang, informasi tersebut sangat mudah diakses. Kemudahan ini, ditambah kemampuan pemuda untuk mengamati dan mengkritisi kondisi di sekitarnya, dapat membuat aspirasi mereka semakin menguat dan disuarakan melalui media sosial.
Gagasan ini memiliki kemiripan dengan pemikiran Arjun Appadurai (2013) mengenai the capacity to aspire, yaitu kemampuan untuk membayangkan dan mengartikulasikan masa depan yang berbeda. Aspirasi bukan sekadar keinginan untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik, tetapi juga berkaitan dengan kemampuan seseorang membayangkan seperti apa kehidupan yang lebih baik itu. Media sosial membuat gambaran tersebut semakin konkret karena pemuda dapat melihat berbagai kemungkinan kehidupan di luar lingkungan mereka sendiri. Ketika seorang pemuda melihat transportasi publik yang terintegrasi, kota yang nyaman untuk pejalan kaki, atau pelayanan publik yang efisien di negara lain, hal-hal tersebut bukan lagi sesuatu yang sepenuhnya abstrak. Mereka memiliki contoh untuk dibandingkan dengan kondisi di sekitarnya.
Bayangkan, seorang pemuda di Yogyakarta dengan berbekal informasi di media sosial dapat segera membandingkan penghasilannya dengan seorang pemuda di Virginia, transportasi umum di daerahnya dengan Seoul, atau bahkan keseimbangan kehidupan kerja (work-life balance) dengan kehidupan di kota-kota Jerman hanya dalam hitungan menit. Perbandingan tersebut mungkin tidak selalu sepenuhnya adil karena setiap tempat memiliki kondisi ekonomi, sosial, dan politik yang berbeda. Namun, hal itu menunjukkan bahwa standar yang digunakan pemuda untuk membayangkan kehidupan yang lebih baik kini tidak lagi terbatas pada lingkungan terdekatnya.
Dengan demikian, akan menjadi salah kaprah apabila dimaknai bahwa pemuda Indonesia semakin tidak nasionalis hanya karena mereka sering membandingkan kehidupan di Indonesia dengan negara lain. Nasionalisme tidak selalu harus ditunjukkan dengan mengunggah foto mengenakan pakaian adat, memasang twibbon Sumpah Pemuda, atau menuliskan kalimat “bangga menjadi Indonesia” di media sosial. Nasionalisme juga dapat muncul dalam bentuk pertanyaan yang lebih sederhana, tetapi jauh lebih substantif: mengapa Indonesia belum bisa memberikan kehidupan yang lebih baik bagi rakyatnya?
Pertanyaan tersebut justru dapat menunjukkan adanya ekspektasi terhadap negara. Ketika seorang pemuda mempertanyakan mengapa transportasi publik di Indonesia belum senyaman Jepang, mengapa berjalan kaki di beberapa kota Indonesia belum senyaman di sejumlah negara Eropa, atau mengapa urusan birokrasi masih dirasakan rumit dibandingkan negara lain, sebenarnya mereka sedang membicarakan Indonesia. Mereka sedang membayangkan sebuah Indonesia yang berbeda, sebuah Indonesia yang menurut mereka mampu memberikan kualitas hidup yang lebih baik.
Pada titik ini, perbandingan dengan negara lain seharusnya tidak selalu dilihat sebagai ancaman terhadap nasionalisme. Perbandingan dapat menjadi cermin. Melalui cermin tersebut, pemuda melihat apa yang sudah dimiliki Indonesia, apa yang masih menjadi persoalan, dan apa yang mungkin diperbaiki. Globalisasi membuat cermin tersebut semakin besar. Dunia yang dahulu terasa jauh kini berada di dalam genggaman tangan.
Seorang pemuda di Yogyakarta dapat melihat sistem transportasi Seoul pada pagi hari, membaca pengalaman pekerja di Jerman pada siang hari, membandingkan harga rumah di Australia pada sore hari, dan berdiskusi mengenai upah di Amerika Serikat pada malam harinya. Semua itu dapat terjadi dalam satu hari, bahkan dalam satu linimasa. Batas geografis menjadi semakin kabur, sementara standar yang digunakan untuk menilai kualitas kehidupan menjadi semakin global.
Dari Bangsa yang Dibayangkan ke Negara yang Ingin Ditinggali
Di sinilah tantangan nasionalisme pemuda hari ini sebenarnya berada. Bukan lagi sekadar bagaimana membuat pemuda mencintai Indonesia, tetapi bagaimana membuat Indonesia menjadi negara yang layak untuk dicintai, diperjuangkan, dan dijadikan tempat untuk membangun masa depan.
Pertanyaan ini memiliki kemiripan dengan keresahan pemuda pada masa pergerakan nasional, meskipun konteksnya tentu sangat berbeda. Pemuda pada 1928 menghadapi realitas kolonial dan berhadapan dengan pertanyaan besar tentang identitas serta masa depan bangsa. Mereka kemudian mengikrarkan satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa: Indonesia.
Gagasan Benedict Anderson (2006) tentang imagined communities dapat membantu kita memahami mengapa momen tersebut begitu penting. Bangsa, dalam pemikiran Anderson, bukan hanya wilayah geografis, melainkan juga komunitas yang dibayangkan dan dirasakan bersama oleh orang-orang yang menjadi bagian darinya. Dalam konteks Sumpah Pemuda, Indonesia menjadi sebuah identitas kebangsaan yang diperjuangkan dan dibayangkan bersama, bahkan sebelum generasi tersebut menyaksikan Indonesia sebagai negara merdeka. Hampir satu abad kemudian, tantangannya memang berbeda. Namun, membayangkan Indonesia seharusnya tidak berhenti setelah negara ini terbentuk. Generasi muda juga berhak membayangkan seperti apa kehidupan bersama yang ingin mereka bangun di dalamnya.
Sumpah Pemuda pada akhirnya bukan hanya tentang bagaimana para pemuda pada 1928 menyatakan diri sebagai satu bangsa, tetapi juga tentang keberanian membayangkan masa depan bersama di tengah keadaan yang belum ideal. Semangat tersebut tentu tidak berarti bahwa konteks perjuangan dahulu dan sekarang sama. Namun, jika dahulu para pemuda berani melampaui perbedaan untuk membayangkan Indonesia sebagai sebuah bangsa, hari ini semangat itu dapat kita refleksikan melalui pertanyaan tentang bagaimana Indonesia seharusnya dibangun agar dapat memberikan kehidupan yang lebih baik bagi masyarakatnya. Dengan demikian, memaknai kembali Sumpah Pemuda bukan berarti mengubah ikrar yang telah diwariskan, melainkan membawa semangat kebersamaan dan cita-cita kebangsaan itu ke dalam persoalan yang dihadapi generasi sekarang.
Hampir satu abad kemudian, situasinya berubah. Indonesia telah menjadi negara merdeka, tetapi pemuda hidup dalam dunia yang jauh lebih terbuka. Mereka tidak hanya mengenal Indonesia, tetapi juga melihat bagaimana negara lain bekerja, berkembang, membangun kota, menyediakan lapangan pekerjaan, mengelola transportasi, memberikan pelayanan publik, dan menciptakan ruang hidup bagi masyarakatnya.
Jika pemuda 1928 bertanya, “Bangsa seperti apa yang ingin kita bentuk?”, mungkin pemuda hari ini menghadapi pertanyaan yang sedikit berbeda: “Negara seperti apa yang ingin kita tinggali?”
Pertanyaan tersebut tidak harus dijawab dengan meninggalkan Indonesia. Justru sebaliknya, pertanyaan itu dapat menjadi dorongan untuk membangun Indonesia agar mampu memenuhi harapan generasinya.
Mencintai Indonesia Tanpa Menganggapnya Sempurna
Namun, ada satu hal yang juga perlu diperhatikan. Membandingkan Indonesia dengan negara lain bukan berarti kita harus menganggap negara lain selalu lebih baik. Media sosial memiliki kecenderungan untuk menampilkan potongan kehidupan yang paling menarik. Kita melihat kereta yang tepat waktu, jalan yang nyaman, gaji yang tinggi, atau pelayanan publik yang efisien, tetapi tidak selalu melihat persoalan sosial, biaya hidup, pajak, tekanan pekerjaan, dan berbagai persoalan lain yang ada di baliknya.
Karena itu, kemampuan membandingkan harus berjalan bersama dengan kemampuan memahami konteks. Jangan sampai globalisasi justru membuat pemuda hanya melihat Indonesia melalui kekurangannya dan negara lain melalui kelebihannya. Sebab, jika demikian, perbandingan tidak lagi menjadi sumber aspirasi, melainkan berubah menjadi rasa inferior.
Hubungan seseorang dengan bangsanya sendiri juga tidak selalu sesederhana antara bangga dan tidak bangga. Bitschnau dan Mußotter (2024), misalnya, mengkritisi kecenderungan untuk membedakan patriotisme dan nasionalisme secara terlalu kaku, seolah-olah keterikatan terhadap bangsa dapat dengan mudah dibagi ke dalam kategori yang sepenuhnya berlawanan. Pemikiran ini mengingatkan kita bahwa hubungan seseorang dengan negaranya perlu dipahami secara lebih kontekstual. Kritik terhadap keadaan negara tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa seseorang telah kehilangan rasa kebangsaannya. Kita juga perlu melihat apa yang dikritik, mengapa kritik itu muncul, dan perubahan seperti apa yang diharapkan.
Pada akhirnya, mungkin sudah waktunya kita memaknai Sumpah Pemuda dengan cara yang sedikit berbeda. Sumpah Pemuda tidak harus berhenti sebagai teks sejarah yang dibacakan setiap 28 Oktober, dipelajari di sekolah, atau dirayakan melalui twibbon dan unggahan media sosial. Ia dapat menjadi momentum untuk kembali bertanya tentang hubungan antara pemuda dan negaranya.
Mencintai Indonesia tidak berarti menganggap Indonesia telah sempurna. Mengkritik Indonesia juga tidak otomatis berarti membencinya. Begitu pula dengan melihat keberhasilan negara lain tidak berarti seseorang ingin meninggalkan negaranya sendiri. Barangkali justru sebaliknya. Ketika seorang pemuda berkata, “Mengapa Indonesia tidak bisa seperti itu?”, di balik kalimat tersebut mungkin terdapat sebuah harapan bahwa Indonesia suatu hari nanti juga bisa menjadi seperti yang mereka bayangkan.
Jika Sumpah Pemuda pada 1928 menjadi tonggak ketika pemuda berani membayangkan sebuah bangsa yang bernama Indonesia, maka tantangan pemuda hari ini adalah berani membayangkan seperti apa Indonesia yang ingin mereka wariskan. Sebab, hampir seratus tahun setelah para pemuda mengikrarkan satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa, pertanyaan kita mungkin bukan lagi sekadar apakah kita masih mencintai Indonesia.
Pertanyaannya adalah: Indonesia seperti apa yang ingin kita cintai, perjuangkan, dan wariskan?
Referensi
- Anderson, B. (2006). Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread of Nationalism (Rev. ed.). Verso.
- Appadurai, A. (2013). The Future as Cultural Fact: Essays on the Global Condition. Verso.
- Bitschnau, M., & Mußotter, M. (2024). (National) pride and (conceptual) prejudice: Critical remarks on the distinction between patriotism and nationalism. Journal of Political Ideologies, 29(1), 64–78. https://doi.org/10.1080/13569317.2022.2096301
- Muhamad, N. (2025, October 28). Kurang lapangan kerja, tantangan utama pemuda Indonesia pada 2025. Katadata. https://databoks.katadata.co.id/politik/statistik/69001f3b8eb36/kurang-lapangan-kerja-tantangan-utama-pemuda-indonesia-pada-2025
- Ridwan, A. (2025, September 1). Sederet tantangan ekonomi menurut anak muda Indonesia, dari bahan pokok hingga pendapatan pajak. Katadata. https://databoks.katadata.co.id/demografi/statistik/68b108e223f1d/sederet-tantangan-ekonomi-menurut-anak-muda-indonesia-dari-bahan-pokok-hingga-pendapatan-pajak




